Karya:
Adhibatul Mustaanah
Saat
aku/ masih duduk/ disekolah dasar.
Engkau
selalu merawatku/ dengan tanganmu yang kasar/ tapi terasa lembut.
Engkau
selalu/ menyiapkan sarapan/ yang bagiku sangat membosankan.
Telur
bebek goreng/ dan/ tempe goreng/ adalah menu sarapan/ yang selalu engkau
hidangkan padaku.
Sering
aku berkata /“Ayah!/ Aku bosan/ dengan sarapan/ yang selalu engkau hidangkan”
Beranjak
dewasa/ aku merasa/ semakin jauh.
Aku
mulai bisa/ menyiapkan/ keperluanku sendiri.
Aku
mulai bisa/ menyelesaikan/ masalahku sendiri.
Dan
akupun mulai sibuk/ dengan/ urusanku sendiri.
Aku
mendekat/ hanya saat/ membutuhkan uang.
“ayah/
minta uang/ untuk beli buku”
“ayah/
minta uang/ untuk bayar SPP”
“ayah/
minta uang/ untuk jajan”
“ayah/
minta uang/ untuk jalan-jalan”
Aku
hanya bisa bilang /ayah minta uang/ untuk ini dan itu.
Betapa/
nakalnya aku/ saat itu.
Betapa/
keras kepalanya/ aku saat itu.
Aku
hanya bisa/ meminta,/ merengek,/ menangis.
Tanpa/
memperdulikan keadaan/ yang terjadi/ saat itu.
Ayah...
Engkau/
selalu /memanjakanku.
Engkau/
selalu/ mengabulkan semua/ permintaanku.
Engkau
mencintaiku/ dalam diam
Engkau
selalu/ mengerti akan hatiku/ saat yang lain/ tidak memahamiku.
Engkau
adalah orang/ yang tidak pernah mengeluh/ dengan kenakalanku.
Engkau
selalu/ mendoakan aku /pada setiap sujudmu.
Dan/
yang paling aku sesali/ tentang itu, aku menyadarinya/ saat engkau/ sudah
meninggalkan aku.
Ayah
/ maafkan anak manjamu ini / yang selalu membuatmu/ tidak pernah berhenti /
untuk berfikir /tentang tingkahku.
Maafkan
aku ayah / karena aku baru menyadari / betapa engkau sangat menyayangiku / saat
aku/ sudah tidak bisa membalas kasih sayangmu.
I
miss you and i love you
Cukup mengharukan
BalasHapus