Selasa, 12 Mei 2015

Ceritaku Tentang AYAH

Karya: Adhibatul Mustaanah

Saat aku/ masih duduk/ disekolah dasar.
Engkau selalu merawatku/ dengan tanganmu yang kasar/ tapi terasa lembut.
Engkau selalu/ menyiapkan sarapan/ yang bagiku sangat membosankan.
Telur bebek goreng/ dan/ tempe goreng/ adalah menu sarapan/ yang selalu engkau hidangkan padaku.
Sering aku berkata /“Ayah!/ Aku bosan/ dengan sarapan/ yang selalu engkau hidangkan”

Beranjak dewasa/ aku merasa/ semakin jauh.
Aku mulai bisa/ menyiapkan/ keperluanku sendiri.
Aku mulai bisa/ menyelesaikan/ masalahku sendiri.
Dan akupun mulai sibuk/ dengan/ urusanku sendiri.

Aku mendekat/ hanya saat/ membutuhkan uang.
“ayah/ minta uang/ untuk beli buku”
“ayah/ minta uang/ untuk bayar SPP”
“ayah/ minta uang/ untuk jajan”
“ayah/ minta uang/ untuk jalan-jalan”
Aku hanya bisa bilang /ayah minta uang/ untuk ini dan itu.

Betapa/ nakalnya aku/ saat itu.
Betapa/ keras kepalanya/ aku saat itu.
Aku hanya bisa/ meminta,/ merengek,/ menangis.
Tanpa/ memperdulikan keadaan/ yang terjadi/ saat itu.
Ayah...
Engkau/ selalu /memanjakanku.
Engkau/ selalu/ mengabulkan semua/ permintaanku.
Engkau mencintaiku/ dalam diam
Engkau selalu/ mengerti akan hatiku/ saat yang lain/ tidak memahamiku.
Engkau adalah orang/ yang tidak pernah mengeluh/ dengan kenakalanku.
Engkau selalu/ mendoakan aku /pada setiap sujudmu.
Dan/ yang paling aku sesali/ tentang itu, aku menyadarinya/ saat engkau/ sudah meninggalkan aku.

Ayah / maafkan anak manjamu ini / yang selalu membuatmu/ tidak pernah berhenti / untuk berfikir /tentang tingkahku.
Maafkan aku ayah / karena aku baru menyadari / betapa engkau sangat menyayangiku / saat aku/ sudah tidak bisa membalas kasih sayangmu.

I miss you and i love you


1 komentar: